PENGUKURAN RANAH KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, taufik, serta inayah–Nya kami dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dan dapat menyelesaikan makalah ini. Semoga dengan syukur inilah, Allah senantiasa menambah cakrawala berpikir kami dan dapat memperbaiki kekurangan-kekurangan isi dari makalah ini.
Selanjutnya kami tak lupa menghaturkan ucapan terima kasih kepada dosen pembina yang telah banyak membimbing kami.
Harapan yang paling berguna bagi penyusun adalah apabila dalam makalah ini terdapat suatu kekhilafan, kami minta saran dan kritiknya yang bersifat konstruktif, karena makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dan kami minta maaf yang tiada batasnya. Semoga menjadi amal baik kami dan bermanfaat kepada kita semua. Amin.

PENDAHULUAN

A. Latar Balakang Masalah

Diketahui secara umum bahwa lima tahun pertama kehidupan anak merupakan saat yang paling menentukan kualitas perkembangan anak. Perkembangan anak meliputi tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif berkaitan dengan kegiatan mental dalam memperoleh, mengolah, mengorganisasi, dan menggunakan pengetahuan. Afektif berkaitan dengan perasaan atau emosi. Sedangkan psikomotorik merupakan aktivitas fisik yang berkaitan dengan proses mental.
Bila anak hidup dalam suatu lingkungan tertentu, maka anak tadi akan memperlihatkan pola tingkah laku yang khas dari lingkungannya tadi. Pada umumnya kegiatan bermain dan belajar di dalam ruangan, hal tersebut dapat mempengaruhi aktivitas anak yang terlihat dari perilakunya selama berada di dalam ruangan. Perilaku itu juga merupakan perwujudan dari aspek perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana kesesuaian antara teori dengan penerapan proses belajar anak didik terhadap kognitif, afektif, dan psikomotoriknya ?
2. Bagaimana pengaruh proses belajar anak didik terhadap kognitif, afektif, dan psikomotoriknya ?

PEMBAHASAN

PENGUKURAN RANAH KOGNITIF, AFEKTIF DAN PSIKOMOTOR
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Pengukuran dalam sekolah berkaitan hanya dengan pencandraan (deskripsi) kuantitatif mengenai tingkah laku siswa. Pengukuran tidak melibatkan pertimbangan mengenai baiknya atau nilai tingkah laku yang diukur itu. Sepertihalnya tes, pengukuranpun tidak menentukan siapa yang lulus dan siapa yang tidak lulus. Pengukuran hanya membuahkan data kuantitatif mengenai hal yang diukur. Pengukuran sebuah silinder, misalnya hanya membuahkan data mengenai beberapa centimeter persegi luas alasnya dan berapa tingginya.
Adapun suatu prosedur untuk memberikan angka (biasanya disebut skor) kepada suatu sifat atau karakteristik tertentu seseorang sedemikian sehingga mempertahankan hubungan senyatanya antara seseorang dengan orang lain sehubungan dengan sifat yang diukur.
Untuk mengukur seseorang menurut batasan tersebut di atas, perlu :
1. Mengidentifikasi orang yang hendak diukur itu;
2. Mengidentifikasi karakteristik (sifat-sifat khas) orang yang hendak diukur itu ; dan
3. Menetapkan prosedur yang hendak dipakai untuk dapat memberikan angka-angka pada karakteristik tersebut.
Definisi diataspun menyiarkan bahwa aspek terpenting dari pengukuran adalah (skor) yang diberikan itu tetap mempertahankan hubungan antar manusia seperti yang ada dalam kenyataannya.

A. Pengukuran Ranah Kognitif

Dalam hubungan dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling utama. Yang menjadi tujuan pengajaran di SD, SMTP, dan di SMU pada umumnya adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif.

B. Pengukuran Ranah Afektif

Ranah afektif meliputi lima jenjang kemampuan ;
1. Menerima
Jenjang ini berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam fenomena atau stimuli khusus (kegiatan dalam kelas, musik, baca buku, dan sebagainya).
2. Menjawab
Kemampuan ini bertalian dengan partisipasi siswa. Pada tingkat ini, siswa tidak hanya menghadiri suatu fenomena tertentu tetapi juga mereaksi terhadapnya dengan salah satu cara.
3. Menilai
Jenjang ini bertalian dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap suatu objek, fenomena, atau tingkah laku tertentu.
4. Organisasi
Tingkat ini berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yamg berbeda, menyelesikan/memecahkan konflik diantara nilai-nilai itu, dan mulai membentuk suatu system nilai yang konsisten secara internal.
5. Karakteristik dengan satu nilai atau komplek nilai.
Pada jenjang ini individu memiliki system nilai yang mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang cukup lama sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”. Jadi, tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat diramalkan.

C. Pengukuran Ranah Psikomotorik

Meskipun peranan ranah psikomotor semakin dirasakan pentingnya, namun tidak dibicarakan meluas dalam lingkup tulisan ini, sedangkan psikomotorik sendiri terfokus pada tingkah laku seseorang (tindakan).
Perkembangan seseorang atau anak didik meliputi tiga aspek, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan ruang belajar dan bermain dimana anak didik itu belajar.
Dengan menganalisa perkembangan anak didik dari ketiga aspek tersebut diharapkan hasil yang dicapai menunjukkan bahwa penerapan ruang belajar dan bermain dimana anak didik tersebut belajar sesuai dengan teori maupun pedoman kependidikan.

PENUTUP

Kesimpulan

Dari beberapa uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa dalam proses belajar mengajar membutuhkan pengukuran ranah afektif, kognitif dan psikomorik. Sehingga dapat melihat skor yang didapat oleh anak didik tersebut.
Untuk itulah kemampuan (skil) dapat terkontrol sejak awal masuk sekolah hingga akan mendapatkan peningkatan yang diinginkan sesuai dengan kemampuan anak didik itu sendiri.
Ketiga ranah tersebut sangat penting untuk diketahui dalam proses belajar mengajar, fungsinya adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa atau anak didik mampu mengaplikasikan apa yang telah didapat.

HUBUNGAN ANTARA SEKOLAH DAN STAKEHOLDER PENDIDIKAN


KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan karunia serta hidayah-Nya sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan Rangkuman Sosiologi Pendidikan. Rangkuman ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi Pendidikan.
Rangkuman yang kami buat ini berjudul “ RANGKUMAN HUBUNGAN ANTARA SEKOLAH DAN STAKEHOLDER PENDIDIKAN ”.
Rangkuman ini dapat diselesaikan dengan adanya kerjasama dan bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak.
Dalam rangkuman ini dirasakan masih banyak kekurangan, baik dalam sistematika penyusunan maupun penggunaan kata-kata. Kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sebagai cerminan kami dalam penyusunan laporan berikutnya.
Akhirnya kepada Allah jualah kami serahkan semuanya. Semoga laporan ini bisa bermanfaat khususnya bagi kelompok kami, umumnya bagi para pembaca. Amin . .
.
Kuningan, Juni 2010

KELOMPOK

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I ISI RANGKUMAN 1

DAFTAR PUSTAKA 4


HUBUNGAN ANTARA SEKOLAH
DAN STAKEHOLDER PENDIDIKAN
Stakeholder pendidikan dapat diartikan sebagai orang yang menjadi pemegang dan sekaligus pemberisupport terhadap pendidikan atau lembaga pendidikan.
Stakeholder pendidikan dibagi dalam 3 kategori utama, yaitu
1. Sekolah, termasuk di dalamnya adalah para guru, kepala sekolah, murid dan tata usaha sekolah.
2. Pemerintah, diwakili oleh para pengawas, penilik, dinas pendidikan, walikota, sampai menteri pendidikan nasional.
3. Masyarakat, sedangkan masyarakat yang berkepentingan dengan pendidikan adalah orangtua murid, pengamat dan ahli pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan atau badan yang membutuhkan tenaga terdidik (DUDI), toko buku, kontraktor pembangunan sekolah, penerbit buku, penyedia alat pendidikan, dan lain-lain.
Definisi dari stakeholder adalah pemegang atau pemangku kepentingan. Orang per orang atau kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan apa pun terhadap sebuah obyek disebut stakeholder. Pendidikan adalah sebuah sistem yang mendukung murid mencapai tujuan-tujuannya melalui pengajaran dan penanaman elemen afektif, kognitif dan psikomotorik secara terencana dalam jangka panjang.
Walaupun banyak ragam, stakeholder pendidikan dibagi dalam 3 kategori utama, yaitu sekolah, pemerintah dan masyarakat. Sekolah, termasuk di dalamnya adalah para guru, kepala sekolah, murid dan tata usaha sekolah. Pemerintah diwakili oleh para pengawas, penilik, dinas pendidikan, walikota, sampai menteri pendidikan nasional. Sedangkan masyarakat yang berkepentingan dengan pendidikan adalah orang tua murid, pengamat dan ahli pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, perusahaan atau badan yang membutuhkan tenaga terdidik (DUDI), toko buku, kontraktor pembangunan sekolah, penerbit buku, penyedia alat pendidikan, dan lain-lain.
Tanpa melibatkan para pemegang kepentingan ini secara utuh, niscaya dunia pendidikan tidak akan berjalan dengan baik. Mengapa? Di dalam dunia pendidikan ada hal yang disebut dengan aksi dan refleksi. Seseorang akan melakukan aksi setelah mempelajari dulu apa yang dilakukan oleh orang-orang sebelumnya dalam merespons rangsangan yang sama atau biasa disebut coping behavior. Untuk menanamkan aspek afektif seperti akhlak mulia, seseorang perlu meniru atau mencontoh ketauladanan lingkungan di sekitarnya. Dunia sekolah tidak akan mampu mensterilkan murid dari perilaku masyarakat di sekelilingnya, untuk itu sekolah memerlukan dukungan masyarakat dalam memberikan ketauladanan dalam mengajarkan akhlak mulia. Begitu juga dengan aspek psikomotorik. Hanya melalui latihan-latihan konkret di lingkungan sekitar yang akan membuat murid belajar untuk melatih kemampuan psikomotriknya sehingga mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tanpa dukungan masyarakat, murid akan terisolasi dalam dunia teori tanpa mampu melakukan tindakan konkret. Sementara itu, masyarakat mengharapkan sekolah lebih menonjol dalam mengembangkan aspek kognitif. Dunia pendidikan formal memang mengutamakan transfer of science and knowledge, yang diharapkan mampu mendorong murid mengembangkan paradigma modernitas dalam kehidupannya kelak.
Pemerintah, sebagai pihak yang berkewajiban menyelenggarakan pendidikan bagi warganya tidak dapat meninggalkan peran dan fungsi masyarakat dalam menuntaskan pendidikan. Pendidikan tidak melulu mengurusi sarana dan prasarana. Tidak hanya sekedar sebuah mata anggaran yang statis. Pendidikan adalah sebuah dinamika proses yang memerlukan kecerdasan untuk menjadikannya wahana yang bermanfaat bagi daerah. Selama ini masih banyak tokoh pemerintahan yang menempatkan pendidikan sebagai beban anggaran, bukan investasi masa depan. Padahal jika dikaji lebih mendalam, hanya manusia berpendidikan lah yang akan mengantarkan bangsa ini ke masa yang lebih baik di masa mendatang. Untuk itu, diperlukan kearifan untuk menggandeng lebih banyak potensi di masyarakat dalam mewujudkan sistem pendidikan yang berkualitas dan berhasilguna. Pendidikan yang steril tidak akan mampu menyerap keunggulan-keunggulan daerah, sehingga menempatkan pendidikan dalam sebuah menara gading. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang kuat diantara ketiga elemen ini sehingga menghasilkan sinergi yang bermanfaat, terutama bagi para murid sebagai subyek pendidikan. Mengingat kesadaran masyarakat yang sudah tinggi terhadap pentingnya pendidikan, banyak warga masyarakat yang secara sukarela bergabung dalam lembaga-lembaga berorientasi pendidikan yang dapat menjadi think-tank pemerintah dalam melaksanakan program-program pendidikan.
Selain masyarakat sukarela, banyak juga masyarakat yang mempunyai tujuan mengambil manfaat dari dunia pendidikan. Para penerbit buku, usaha kursus, penyedia alat pendidikan, dan pengusaha-pengusaha lainnya. Kelompok ini juga perlu difasilitasi, bahkan jika perlu dibangkitkan kesadarannya, bahwa selain sebagai lahan penghidupan, dunia pendidikan juga memerlukan kesetiakawanan yang dapat memperbaiki kualitas maupun kuantitas pelayanan pendidikan. Untuk itu, pendekatan usaha terhadap dunia pendidikan adalah bersifat mendukung, tidak hanya sekedar memeras dan menjadikannya layaknya komoditas.
Berbeda dengan dunia kesehatan yang lebih menekankan pada pendekatan kuratif yang singkat, di dalam dunia pendidikan, pendekatannya bersifat promotif. Hasil yang dicapai tidak didapatkan seketika, melainkan melalui proses panjang puluhan tahun. Tidak ada proses instan dalam pendidikan. Diperlukan ketekunan dan keprihatinan untuk mendapatkan hasil terbaik melalui kerja keras bertahun-tahun. Untuk itu, seluruh stakeholder pendidikan sudah harus mempunyai visi yang sama, platform yang sama, rasa hormat yang sama, sehingga kesadaran dalam menghadapi tantangan dan peluang selama bertahun-tahun ke depan dapat dilakukan secara kompak dan saling mendukung.
Pada akhirnya, sekolah sebagai ujung tombak pendidikan. Walaupun bukan satu-satunya pilihan, sekolah formal masih memegang peranan penting sampai saat ini. Masih banyak yang percaya bahwa sekolah merupakan satu-satunya jawaban yang benar dalam menyelesaikan seluruh urusan pendidikan. Namun setelah sekian lama, urusan pendidikan malah semakin rumit. Sekolah-sekolah belum betul-betul mampu mentransformasi sumber daya manusia kita menjadi aset unggul yang bernilai tambah. Malah semakin banyak tenaga terdidik yang menganggur. Tidak terjadi link and match antara keluaran sekolah dengan kebutuhan dunia kerja. Apakah artinya? Artinya sistem pendidikan di sekolah belum mampu menyerap kearifan lokal, keunggulan daerah, dan dinamika masyarakat sekitarnya. Tidak terjadi praksis antara satuan pendidikan dengan lingkungan sekitarnya. Sekolah cenderung arogan dengan teori-teori ilmiahnya. Mereka menjadi steril dan meremehkan proses aksi refleksi dengan para stakeholdernya.
Diperlukan sebuah sistem yang membuat sekolah mampu menyerap aspirasi stakeholdernya. Dunia usaha dan industri di daerah tidak perlu merekrut tenaga kerja dari luar daerah, jika dunia pendidikan kita mempunyai daya tarik bagi mereka. Penentuan jurusan di sebuah sekolah seharusnya menggunakan studi kelayakan yang terukur, sehingga pemetaan kebutuhan tenaga kerja dapat dijawab oleh penyiapan sekolah-sekolah yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Tokoh-tokoh di sekolah seperti kepala sekolah dan guru perlu mendapatkan penyegaran mengenai revitalisasi fungsi pendidikan dalam dunia nyata kita sehari-hari. Demikian pula perguruan tinggi kita. Kampus tidak harus menjadi menara gading. Kebutuhan daerah terhadap lulusan perguruan tinggi semakin besar seiring semakin kompleksnya permasalahan di era otonomi ini. Perspektif komprehensif, visioner dan strategis yang dimiliki para sarjana secara pasti sudah menjadi kebutuhan daerah untuk mengelola aset-asetnya.
Lalu, dimana simpul yang mempertemukan kepentingan seluruh elemen para stakeholder ini? Simpulnya adalah pada hasil didik yang mampu membawa bangsa ini pada kondisi yang lebih baik di masa depan. Mereka adalah anak-anak kita sendiri. Mereka adalah satu-satunya harapan untuk menyelesaikan begitu banyak masalah ketika kita sudah uzur. Mereka adalah aset kita, dan kita sedang berinvestasi dengan mengandalkan niat baik kita terhadap anak-anak kita sendiri. Dengan demikian, siapapun yang mendholimi dunia pendidikan, artinya mereka dholim terhadap masa depan anak keturunan mereka sendiri.
Ketiga unsur stakeholder juga harus menjadi kaca benggala bagi para kompatriotnya. Masyarakat dapat menjadi umpan balik atau feedback bagi sekolah dan pemerintah. Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadi center of excellent, tauladan nilai dan sumber inspirasi bagi pemerintah dan masyarakat. Pemerintah, sebagai fasilitator, tinggal merealisasikannya untuk kemaslahatan bersama.
Bukan hal mudah memisahkan dunia pendidikan dari kelompok-kelompok vested interested yang terlanjur melekat. Dunia pendidikan saat ini sudah seperti kapal pesiar mewah yang dipenuhi kelompok kepentingan. Padahal di dalamnya ada subyek yang harus dilayani, yaitu para murid. Hanya saja nasib subyek pendidikan ini saat ini sudah menjadi obyek pendidikan. Godaan untuk memanipulasi dunia pendidikan begitu besarnya, mengingat anggarannya yang mencapai lebih dari 18% dari anggaran nasional, 20% dari anggaran kota, dan 20% dari anggaran propinsi. Belum lagi dari partisipasi masyarakat. Akumulasi dari seluruh anggaran tersebut membuat siapapun berminat menjadikan dunia pendidikan sebagai komoditas utama. Mengingat hal ini, komunikasi di antara stakeholder pendidikan di Pekalongan mutlak diperlukan untuk menjamin prinsip akuntabilitas dalam pemanfaatan uang negara.

http://www.ramdhan18.wordpress.com 
DAFTAR PUSTAKA

– Fikri Ghazali Ramdhan. 2011. http://www.ramdhan18.wordpress.com. Universitas Kuningan.
http://www.uns.ac.id/data/sp8.pdf
http://www.google.com

Konsep dan Definisi Pembelajaran


KONSEP DAN DEFINISI PEMBELAJARAN
A. Pendahuluan
Bab ini membahas konsep atau definisi pembelajaran sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kurikulum dan pembelajaran setelah mempelajari bab ini kita diharapkan dapat memeahami konsep dan proses pembelajaran, yang secara khusus dapat dirinci dalam bentuk – bentuk perilaku sebagai berikut :
1. Menjelaskan pengertian pembelajaran,
2. Menjelaskan tujuan pembelajaran,
3. Mengidentifikasi cirri – ciri pembelajaran,
4. Mengkaji dimensi pembelajaran,
5. Mengidentifikasi factor – factor yang mempengaruhi belajar,
6. Mengkaji inflikasi dimensi belajar terhadap proses pembelajaran.
Untuk memberi kemudahan pencapaian tujuan tersebut selanjutnya akan disajikan pembahasan materi menyangkut ;
1. Pengertian, tujuan dan cirri pembelajaran,
2. Unsur – unsur dinamis dalam pembelajaran.
B. Pengertian Tujuan dan Ciri – Ciri Pembelajaran
Padanan istilah belajar dan pembelajaran yang adalah Learning dan Insturction. Istilah Learning menurut ( Fontanan, 1981 ) berate proses perubahan yang relatife tetap dalam perilaku individu sebagai hasil pengalaman. Definisi terfokus pada 3 hal yaitu :
1. Bahwa belajar harus memungkinkan dterjadinya perilaku perubahan individu
2. Bahwa perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman
3. Bahwa perubahan itu terjadi pada perilaku individu yang mungkin
Di lain pihak istilah Instruction ( Fomiszowski, 1981 ) merujuk pada proses pembelajarn berpusat pada tujuan atau gold directed teaching process yang dalam banyak hal dapat direncanakan sebelumnya ( pre – planned ). Oleh sebab itu istilah Instruction sering diartikan sebagai proses pembelajaran yakni membuat orang melakukan proses belajar sesuai dengan rancangan.
Proses pembelajaran dapat dikaji dari 2 pendekatan psikologi yakni pendekatan connectionist or behaviorist di satu pihak dan pendekatan cognitive or cognitive field di lain pihak. Pendekatan pertama : proses pembelajaran sebagi proses terjadinya hubungan antara stimulus atau rangsangan dengan respon atau jawaban, atau antara respon dengan penguatan. Pendekatan kedua proses pembelajaran tidak semata – semat hasil hubungan stimulus dan respon tetpi juga merupakan hasil dari kemampuan mental individu dalam melakukan fungsi – fungsi psikologis seperti konsep dan ingatan atau dengan kata lain : pendekatan pertama, menekankan pada diluar diri individu sedangkan pendekatan kedua, menitik beratkan pada potensi diri individu.
Gagne berpendapat bahwa belajar memang dipengaruhi oleh dua hal yakni variable dalam diri individu dan diluar diri individu yang saling berinteraksi. Nampaknya pandanagan ini bersipat eklektis ( perpaduan ) dari esensi pandanag behaviorisme dan konseptualisme instrumrntal. Dengan pandangan eklektisnya itu Gagne merinci proses belajar menjadi 8 jenis belajar yakni :
1. Signal Learning , atau belajar isyarat
Belajar melalui isyarat adalah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dengan memahami tanda atau isyarat.
2. Stimulus – Response Learning, atau belajar stimulus respon
Belajar Stimulus atau respon terjadi pada diri individu karena ada rangsangan dari luar.
3. Chaining Learning, atau belajar rangkaian
Belajar rangkaian terjadi melalaui perpaduan berbagai proses stimulus respon (S – R) yang telah dipelajari sebelumnya sehingga melahirkan perilaku yang segera atau spontan.
4. Verbal Association Learning, atau belajar asosiasi verbal
Belajar asosiasi verbal terjadi bila individu telah mengetahui sebutan bentuk ia dapa menangkap makna yang bersipat verbal
5. Discrimination Learnin, atau belajar membedakan
Belajar diskriminasi terjadi bila individu berhadapan dengan benda suasana, atau pengalaman yang luas dan ia mencoba membeda – bedakan yang jumlahnya banyak itu.
6. Concept Learnin, atau belajar konsep
Belajar konsep terjadi bila individu berhadapan berbagai fakta atau data yang kemudian ditafsirkan kedalam suatu pengertian atau makna yang abstrak.
7. Rule Learning, belajar hukum atau aturan
Belajar aturan hukum terjadi bila individu menggunakan beberapa rangkaina pristiwa atau perangkat data yang terdahulu atau diberikan sebelumnya dan menerapkannya atau menarik kesimpulan menjadi suatu aturan.
8. Problem Solving Learning, atau belajar memecahkan masalah
Belajar memecah masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan.
C. Unsur – Unsur dan Fungsi Dinamis Dalam Pembelajaran
Proses belajar ditandai oleh berubahnya perilaku individu sebagai pebelajar, sedangkan pembelajaran di tandai terciptanya suasana dan lingkunagn belajar yang dirancang oleh orang lain untuk kepentingan perubahan perilaku pebelajar. Melihat berbagai teori pembelajaran yang berkembang saat ini yang berkrembang saat ini Marzano, Pickering dan McTiger (1993) merumuskan peristiwa belajar sebagai proses yang erat kaitanya denagn proses berpikir. Proses belajar menurut ketiga ahli tersebut memiliki lima dimensi.
Dimensi Pertama : sikap dan persepsi mengenai belajar. Sikap dan persepsi positive sangatlah penting dalam belajar karena tanpa itu seseorang tidak dapat belajar dengan berhasil. Dengan lain perkataan bila seseorang ingin berhasil dalam belajar ia harus memiliki sikap dan persepsi yang positive, seperti merasa senang :
1. Berada di dalam ruangan
2. Terhadap mata pelajaran yang dihadapinya
3. Terhadap cara guru dalam mengajar
4. Terhadap sumber belajar yang digunakan
Dimensi Kedua : Memperoleh dan Mengintegrasikan pengetahuan. Perlu kiat ingat bahwa proses belajar bagi individu bukanlah proses yang sekali jadi tetapi merupakan proses yang berlangsung tahap demi tahap, sedikit demi sedikit dan berlangsung sepanjang hayat. Artinya didalam belajar seseorang melakukan peristiwa belajar yang tidak pernah putus karena memang pengetahuan yang dimilki seseorang bersifat akumulatif yakni merupakan perpaduan antara pengetahuan lama dan pengetahuan brau serta pengetahuan yang lebih baru lagu yang diperoleh individu.
Dimensi Ketiga : Memperluas dan memperbaiki pengetahuan. Dimensi belajar ketiga merupakan kelanjutan dari dimensi kedua. Pengetahuan lama dan baru yang terintegrasi dalam diri pebelajar perlu disesuaikan, dimantapkan, dan ditumbuh – kembangkan. Untuk melakukan semua itu terdapat sejumlah kegiatan yang harus dilakukan yakni : membandingkan, mengelompokan, melakukan induksi, menarik deduksi, menganalisis kesalahan atau kekeliruan, menciptakan dan menganalisis pengetahuan pendukung, membuat dan menganalisis perkiraan kedepan, dan melakukan proses abstraksi.
Dimensi Keempat : Menggunakan pengetahuan secara bermakna. Menurut para ahli, proses belajar yang efektip ditandai oleh tampilnya individu yang dapat menggunakan pengetahuanya untuk melakukan pekerjaanya dengan berhasil. Misalnya seseorang yang belajar computer harus dapat menunjukan bahwa ia mampu menggunakan pengetahuan dan keterampilanya itu untuk melaksanakan tugasnya sehari-hari misalnya melakukan penulisan data dengan mengunakan computer, melakukan perhitungan statiska, dan pekerjaan lain yang mengunakan computer.
Dimensi Kelima : Kebiasaan berpikir produktif . Dimensi ini merupakan muara dari proses dan hasil belajar karena itu dinilai sangatlah penting. Kebiasaan yang produktif adalah kebiasaan individu dalam menghadapi berbagai persoaalan secara kritis, kreatif, teratur, dan berdisiplin sehingga berhasil melakukan suatu tindakan yang bermakna. Seorang individu mempunyai kebiasaan berfikir produktif antara lain memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1. Menyadari jalan pikirannya
2. Berpikir jernih, terbuka dan lapang dada
3. Menghidarkan diri dari sifat egois dan emosional sekaligus mencari kejernihan permasalahan
4. Selalau berupaya efektif dalam setiap tindakannya
5. Berupaya memperluas dan memperdalam pengetahuannya
D. Asas dan Prinsip Pembelajaran.
Berikut ini adalah asas dan prinsip pembelajaran yang di Intisarikan Rothwall (1961):
1. Prinsip Kesiapan ( Readiness )
2. Prinsip Motivasi ( Motivation )
3. Prinsip Persepsi ( Perception )
4. Prinsip Tujuan ( Goal )
5. Prinsip Perbedaan Individu
6. Prinsip Transfer dan Retensi
7. Prinsip Belajar Kognitif
8. Prinsip Belajar Efektif
9. Prinsip Belajar Psikomotor
10. Prinsip Evaluasi
E. Penerapan Asas dan Prinsip Pembelajaran
“ Proses Pembelajaran ” harus memungkinkan terjadinya “ proses belajar ” yang memang harus memungkinkan perolehan “ Hasil Belajar ” yang baik. Dengan kata lain makin kecil penyimpangan hasil belajar dan proses belajar, maka proses pembelajaran itu semakin berhasil. Sebaliknya makin jauh hasil belajar dan proses belajar dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran semakin tidak berhasil.
Sebagai bagian akhir mari kita simak rangkuman di bawah ini :
1. Proses pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari proses dan hasil belajar. Proses pembelajaran harus dengan sengaja di organisasikan secara benar dan baik agar dapat menumbuhkan proses belajar yang baik yang pada giliarnya dapat mencapai belajar yang optimal oleh karena itu jenis – jenis proses belajar dan hasil belajar seyogyanya menjadi pusat perhatian metode pembelajaran.
2. Setiap jenis belajar mulai dari belajar isyart sampai belajar pemecahan masalah memiliki karakteristik proses mental dan interaksi yang khas atau spesifik, oleh karena itu rancangan proses pembelajaran menuntut wawasan jenis belajar dan hasil belajar yang sesuai.
3. Proses pembelajaran merupakan upaya sistematis yang disengaja dirancang untuk menumbuhkan proses belajar dalam diri individu. Proses belajr dilain pihak merupakan suatu aktifitas mental emosional, fisik dan social yang tumbuh dalam bentuk interaksi individu dan lingkungannya sehingga melahirkan kualitas perilaku individu misalnya lebih banyak tahu, lebih terampil, lebih akrab serta lebih pekak terhadap lingkungannya.